<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>JALAN HIDUP</title>
	<atom:link href="http://www.opick.net/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.opick.net</link>
	<description>aneka ragam liku-liku kehidupan</description>
	<lastBuildDate>Mon, 08 Mar 2010 01:17:09 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.2</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Semalam Bersama Orang Tua</title>
		<link>http://www.opick.net/2010/03/08/semalam-bersama-orang-tua.html</link>
		<comments>http://www.opick.net/2010/03/08/semalam-bersama-orang-tua.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 08 Mar 2010 01:04:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Al-Kisah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.opick.net/?p=118</guid>
		<description><![CDATA[Pagi ini aku senang sekali..
Walau hanya semalan saja aku bersama keluarga dirumah, tapi aku senang..
Sambutan yang begitu hangat saat sampai didepan rumah..masakan kesukaan telah disajikan..bahkan mereka rela menahan lapar hanya untuk menungguku agar dapat makan malam bersamaku...
Berbeda Jarak tempat tinggal antara aku dan orang tua bukan berarti untuk berpisah...
walau aku, istri dan anaku masih tinggal [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pagi ini aku senang sekali..<br />
Walau hanya semalan saja aku bersama keluarga dirumah, tapi aku senang..<br />
Sambutan yang begitu hangat saat sampai didepan rumah..masakan kesukaan telah disajikan..bahkan mereka rela menahan lapar hanya untuk menungguku agar dapat makan malam bersamaku...</p>
<p>Berbeda Jarak tempat tinggal antara aku dan orang tua bukan berarti untuk berpisah...<br />
walau aku, istri dan anaku masih tinggal dalam atap orang (rumah kontrakan), namun aku sudah cukup bahagia dengan kondisi ini...</p>
<p>Hidup mandiri adalah salah satu prinsipku, bersama istri dan anaku yang baru berumur 7 bulan membuatku bertambah semangat untuk melangkah merangkai bingkai-bingkai kehidupan untuk masa depan yang lebih cerah.</p>
<p>Semoga Allah mengambulkan do'a hamba yang berniat untuk Membahagiakan istri dan anaknya, orang tua serta keluarganya dimanapun berada..<br />
Amiin.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.opick.net/2010/03/08/semalam-bersama-orang-tua.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>SURAT DARI SETAN UNTUK MU</title>
		<link>http://www.opick.net/2010/01/24/surat-dari-setan-untuk-mu.html</link>
		<comments>http://www.opick.net/2010/01/24/surat-dari-setan-untuk-mu.html#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 24 Jan 2010 02:46:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hikmah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.opick.net/?p=112</guid>
		<description><![CDATA[Aku melihatmu kemarin, saat engkau memulai aktifitas harianmu.
Kau bangun tanpa sujud mengerjakan subuhmu
Bahkan kemudian, kau juga tidak mengucapkan "Bismillah" sebelum memulai santapanmu,
juga tidak sempat mengerjakan shalat Isha sebelum berangkat ketempat tidurmu
Kau benar2 orang yang bersyukur, Aku menyukainya
Aku tak dapat mengungkapkan betapa senangnya aku melihatmu tidak merubah cara hidupmu.
Hai Bodoh, Kamu millikku.
Ingat, kau dan aku sudah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="aligncenter size-thumbnail wp-image-113" title="22440_1333356371924_1171494809_998686_4449744_a" src="http://www.opick.net/wp-content/uploads/2010/01/22440_1333356371924_1171494809_998686_4449744_a-150x117.jpg" alt="22440_1333356371924_1171494809_998686_4449744_a" width="150" height="117" />Aku melihatmu kemarin, saat engkau memulai aktifitas harianmu.<br />
Kau bangun tanpa sujud mengerjakan subuhmu<br />
Bahkan kemudian, kau juga tidak mengucapkan "Bismillah" sebelum memulai santapanmu,<br />
juga tidak sempat mengerjakan shalat Isha sebelum berangkat ketempat tidurmu<br />
Kau benar2 orang yang bersyukur, Aku menyukainya<br />
Aku tak dapat mengungkapkan betapa senangnya aku melihatmu tidak merubah cara hidupmu.</p>
<p>Hai Bodoh, Kamu millikku.<br />
Ingat, kau dan aku sudah bertahun-tahun bersama,<br />
dan aku masih belum bisa benar2 mencintaimu .<br />
Malah aku masih membencimu, karena aku benci Allah.<br />
Aku hanya menggunakanmu untuk membalas dendamku kepada Allah.<br />
Dia sudah mencampakkan aku dari surga, dan aku akan tetap memanfaatkanmu sepanjang masa untuk mebalaskannya<span id="more-112"></span></p>
<p>Kau lihat, ALLAH MENYAYANGIMU dan dia masih memiliki rencana-rencana untukmu dihari depan.<br />
Tapi kau sudah menyerahkan hidupmu padaku,<br />
dan aku akan membuat kehidupanmu seperti neraka.<br />
Sehingga kita bisa bersama dua kali dan ini akan menyakiti hati ALLAH</p>
<p>Aku benar-benar berterimakasih padamu, karena aku sudah menunjukkan kepada NYA siapa<br />
yang menjadi pengatur dalam hidupmu dalam masa2 yang kita jalani</p>
<p>Kita nonton film porno bersama, memaki orang, mencuri, berbohong, munafik,<br />
makan sekenyang-kenyangya, guyon2an jorok, bergosip, manghakimi orang, menghujam orang dari belakang, tidak hormat pada orang tua ,<br />
Tidak menghargai Masjid, berperilaku buruk.</p>
<p>TENTUNYA kau tak ingin meninggalkan ini begitu saja.<br />
Ayolah, Hai Bodoh, kita terbakar bersama, selamanya.<br />
Aku masih memiliki rencana2 hangat untuk kita.<br />
Ini hanya merupakan surat penghargaanku untuk mu.<br />
Aku ingin mengucapkan 'TERIMAKASIH' karena sudah mengizinkanku memanfaatkan hampir semua masa hidupmu.<br />
Kamu memang sangat mudah dibodohi, aku menertawakanmu.<br />
Saat kau tergoda berbuat dosa kamu menghadiahkan tawa.<br />
Dosa sudah mulai mewarnai hidupmu.<br />
Kamu sudah 20 tahun lebih tua, dan sekarang aku perlu darah muda.<br />
Jadi, pergi dan lanjutkanlah mengajarkan orang-orang muda bagaimana berbuat dosa.<br />
Yang perlu kau lakukan adalah merokok, mabuk-mabukan, berbohong, berjudi, bergosip, dan hiduplah se-egois mungkin.<br />
Lakukan semua ini didepan anak-anak dan mereka akan menirunya.<br />
Begitulah anak-anak .<br />
Baiklah, aku persilahkan kau bergerak sekarang.<br />
Aku akan kembali beberapa detik lagi untuk menggoda mu lagi.<br />
Jika kau cukup cerdas, kau akan lari sembunyi, dan bertaubat atas dosa-dosamu.<br />
Dan hidup untuk Allah dengan sisa umurmu yang tinggal sedikit.<br />
Memperingati orang bukan tabiatku, tapi diusiamu sekarang dan tetap melakukan dosa, sepertinya memang agak aneh.<br />
Jangan salah sangka, aku masih tetap membencimu.<br />
Hanya saja kau harus menjadi orng tolol yang lebih baik dimata ALLAH.</p>
<p>Catatan : Jika kau benar-benar menyayangiku , kau tak akan membagi surat ini dengan siapapun</p>
<p>sumber : web sebelah</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.opick.net/2010/01/24/surat-dari-setan-untuk-mu.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hujan..telah tiba&#8230;.Hore&#8230;</title>
		<link>http://www.opick.net/2009/12/01/hujan-telah-tiba-hore.html</link>
		<comments>http://www.opick.net/2009/12/01/hujan-telah-tiba-hore.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 01 Dec 2009 05:54:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Al-Kisah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.opick.net/?p=106</guid>
		<description><![CDATA[Musim hujan emang udah jadi langganan bumi dari langit...tentu saja semua ini adalah anugerah dari Sang Maha Pemberi. Ironisnya musim apapun yang diberikan selalu saja dikeluhkan oleh yang namanya M-A-N-U-S-I-A. Keluhan kekeringan air lah, keluhan kebanjiran lah...padahal ulah mereka sendiri lah yang membuat keadaan bumi ini jadi rusak.
Barangkali diantara mereka yg selalu bersyukur adalah anak-anak...mereka [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-109" title="hujan" src="http://www.opick.net/wp-content/uploads/2009/12/hujan1-150x150.jpg" alt="hujan" width="150" height="150" />Musim hujan emang udah jadi langganan bumi dari langit...tentu saja semua ini adalah anugerah dari Sang Maha Pemberi. Ironisnya musim apapun yang diberikan selalu saja dikeluhkan oleh yang namanya M-A-N-U-S-I-A. Keluhan kekeringan air lah, keluhan kebanjiran lah...padahal ulah mereka sendiri lah yang membuat keadaan bumi ini jadi rusak.</p>
<p>Barangkali diantara mereka yg selalu bersyukur adalah anak-anak...mereka jarang sekali mengeluhkan kondisi pergantian musim...mereka justru sangat senang saat tubuh mereka diguyur hujan walau pulang sekolah dalam kondisi basah kuyup.. Belum hilang dari ingatan saat-saat masa kecil terasa senang sekali bermain hujan-hujanan.</p>
<p>Hemmm... aku rindu masa kecilku...</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.opick.net/2009/12/01/hujan-telah-tiba-hore.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>SAMI-MAWON</title>
		<link>http://www.opick.net/2009/10/23/sami-mawon.html</link>
		<comments>http://www.opick.net/2009/10/23/sami-mawon.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 23 Oct 2009 09:33:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Obat Stress]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.opick.net/2009/10/23/sami-mawon.html</guid>
		<description><![CDATA[Sebut aja cecep asli orang sunda bapak ibu asli dari ciamis.., cecep ketika itu sedang berlibur kekota jogjakarta seorang diri...saat tiba didaerah Kraton cecep hendak membeli makanan karena perutnya dah menjerit kelaparan..(lebay euy..)
Dengan berlaga ngomong jawa, cecep mencoba bertanya "Mbah...iki yang kuning makanan opo ya mbah.."
"Iki Getuk..de...", sahut penjual getuk.
"Yang merah mbah???".
"samimawon de...".
dengan pede-nya cecep langsung [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sebut aja cecep asli orang sunda bapak ibu asli dari ciamis.., cecep ketika itu sedang berlibur kekota jogjakarta seorang diri...saat tiba didaerah Kraton cecep hendak membeli makanan karena perutnya dah menjerit kelaparan..(lebay euy..)</p>
<p>Dengan berlaga ngomong jawa, cecep mencoba bertanya "Mbah...iki yang kuning makanan opo ya mbah.."</p>
<p>"Iki Getuk..de...", sahut penjual getuk.</p>
<p>"Yang merah mbah???".</p>
<p>"samimawon de...".</p>
<p>dengan pede-nya cecep langsung memesan "Ooo..kalo gitu, GETUK siji....SAMIWAMON siji... ".</p>
<p>tukang getuk "???!!#%..."<span id="more-101"></span></p>
<h2 style="font-size: 1.5em;">Ketinggalan Kereta</h2>
<p>Saat itu 3 orang pemuda tergesa-gesa menerobos masuk kedalam stasiun kota, sesampai didalam ternyata kereta baru saja jalan, karena tidak mau menunggu kereta berikutnya ketiga orang tersebut langsung mengejarnya</p>
<p>sampai akhirnya 2 orang berhasil naik digerbong belakang, anehnya temannya yang tertinggal malah tertawa dan berhenti sambil ngos-ngosan...</p>
<p>Melihat tingkah aneh pemuda tersebut langsung saja seorang penjaga lintasan kereta bertanya "sampean ditinggal dua teman sampean ko sampean malah tertawa..", sambil nyengir pemuda itu menjawab</p>
<p>"gimana saya gak geli pak...lah wong yg harusnya naik kereta tuh saya...teman-teman saya tuh cuma ngantar to..".</p>
<h2 style="font-size: 1.5em;">Dongkrak Antik</h2>
<p>Waktu itu sudah larut malam, seorang wanita berpakaian serba putih berdiri dipinggir jalan tepat digerbang pintu keluar sebuah Rumah Sakit, saat sebuah mobil angkot tiba dan berhenti tepat disamping wanita tersebut,</p>
<p>sang sopir berkata "terminal neng...ayo...angkot terakhir nih.." .</p>
<p>sang wanita berkata "gak ah bang..penuh...".</p>
<p>tiba-tiba seorang laki-laki yg duduk dipinggir pintu angkot berkata "udah neng..naek aja...abang pangku sini..dari pada pulang jalan...nanti berbahaya.."</p>
<p>karena terpaksa akhirnya wanita tersebut manut aja "yaudah deh..bang...".</p>
<p>sambil memangku wanita tersebut, pria tersebut bertanya "neng suster ya?", wanita itu menjawab "ko abang tau?".</p>
<p>"itu baju celananya putih-putih.." sahut si pria..</p>
<p>"Abang montir ya??" balas si wanita..</p>
<p>Pria tersebut penasaran."Lho ko neng tau??"....</p>
<p>wanita itu menjawab "Ini dongkrak antiknya turun naik terus..."</p>
<h2 style="font-size: 1.5em;">Meyakinkan Kepada Sang Ayah</h2>
<p>Ucok yang sudah lama meninggalkan kampung halamannya dan bertahun-tahun merantau ke jakarta. Sepulang dari perantauan mengajak pacarnya lamanya yang dikampung untuk menikah dengannya karena dia beranggapan pacarnya itu seorang perempuan baik-baik dan setia padanya.</p>
<p>Tibalah pada honeymoon rupanya ucok merasa kecewa dengan pacar yang telah resmi menjadi istrinya dan mengadukan keluhannya kepadanya ayahnya.</p>
<p>Ucok : "yah menantumu nggak perawan lagi"</p>
<p>Ayah : (karena sudah malam dan merasa ngantuk berat) "ya udah besok aja kita bicarakan"</p>
<p>Ucok : "apa ayah nggak percaya kalau menantu ayah udah nggak perawan"</p>
<p>Ayah : "saya bilang besok ya besoklah!" jawab ayahnya dengan kesal.</p>
<p>Ucok : karena kelepasan bicara dengan niat meyakinkan ayahnya "kalau ayah nggak percaya, ayah cobalah!"</p>
<p>Ayah : @@???!@@@@... (bingung)</p>
<h2 style="font-size: 1.5em;">Sapiku Ada Lima</h2>
<p>Dinyanyikan dengan nada balonku ada lima</p>
<p>Sapiku ada lima</p>
<p>rupa-rupa warnanya</p>
<p>hitam putih kelabu</p>
<p>yang dua enggak tau</p>
<p>Sapiku hilang empat..aw..</p>
<p>hatiku sangat kacau</p>
<p>sapiku tinggal satu</p>
<p>mukanya kayak kamu</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.opick.net/2009/10/23/sami-mawon.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Lihat kebawah bukan keatas</title>
		<link>http://www.opick.net/2009/08/28/lihat-kebawah-bukan-keatas.html</link>
		<comments>http://www.opick.net/2009/08/28/lihat-kebawah-bukan-keatas.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 28 Aug 2009 09:01:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jalan Hidup]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.opick.net/2009/08/28/lihat-kebawah-bukan-keatas.html</guid>
		<description><![CDATA[Jika kita memperhatikan sekitar lingkungan kita sehari-hari, maka sering kali kita dihadapkan dengan kehidupan yang beraneka ragam gaya hidup manusia.
Dunia ini tidaklah kekal, namun begitu lengkap dengan segala apa yang tedapat didalamnya. Mereka yang hidup dengan bergelimang harta rasanya begitu mudah untuk mendapatkan segala apa yang mereka inginkan. Bagi mereka kehilangan satu atau dua juta [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="outline-width: 0px; outline-style: initial; outline-color: initial; vertical-align: baseline; background-image: initial; background-repeat: initial; background-attachment: initial; -webkit-background-clip: initial; -webkit-background-origin: initial; background-color: transparent; margin-top: 1px; margin-right: 0px; margin-bottom: 10px; margin-left: 0px; font-size: 1.2em; background-position: initial initial; padding: 2px; border: 0px initial initial;"><img class="alignleft size-full wp-image-96" title="look-down" src="http://www.opick.net/wp-content/uploads/2009/08/look-down.jpg" alt="look-down" width="240" height="180" />Jika kita memperhatikan sekitar lingkungan kita sehari-hari, maka sering kali kita dihadapkan dengan kehidupan yang beraneka ragam gaya hidup manusia.</p>
<p style="outline-width: 0px; outline-style: initial; outline-color: initial; vertical-align: baseline; background-image: initial; background-repeat: initial; background-attachment: initial; -webkit-background-clip: initial; -webkit-background-origin: initial; background-color: transparent; margin-top: 1px; margin-right: 0px; margin-bottom: 10px; margin-left: 0px; font-size: 1.2em; background-position: initial initial; padding: 2px; border: 0px initial initial;">Dunia ini tidaklah kekal, namun begitu lengkap dengan segala apa yang tedapat didalamnya. Mereka yang hidup dengan bergelimang harta rasanya begitu mudah untuk mendapatkan segala apa yang mereka inginkan. Bagi mereka kehilangan satu atau dua juta rupiah perhari terasa biasa. Berbeda dengan mereka yang sehari-hari berkeringat darah mencari nafkah untuk istri dan anak-anak mereka. Rasanya uang seribu-pun butuh waktu berjam-jam untuk mengaisnya. Tak perduli walau panas dan hujan menghadang, mereka terus berjuang demi sesuap nasi.<span id="more-97"></span></p>
<p style="outline-width: 0px; outline-style: initial; outline-color: initial; vertical-align: baseline; background-image: initial; background-repeat: initial; background-attachment: initial; -webkit-background-clip: initial; -webkit-background-origin: initial; background-color: transparent; margin-top: 1px; margin-right: 0px; margin-bottom: 10px; margin-left: 0px; font-size: 1.2em; background-position: initial initial; padding: 2px; border: 0px initial initial;">Pernahkan anda perhatikan dijalan-jalan, penjual makanan disekitar sekolah, penjual rokok dipinggir lampu merah, penjual kerupuk atau mainan kecil yang biasa muncul disetiap kemacetan kota, terkadang sering pula kita melihat seorang bapak dan anak yang mengamen di bus-bus, sang bapak memegang amply yang menggantung di dadanya sedang sang anak yang bernyanyi, juga ada seorang yang setiap harinya berkeliling berjalan kaki berjualan pakean (baju, celana kolor) atau alat-alat rumah tangga (kasur, gorden, lemaril), dan itu yang mereka kerjakan sehari-hari. Kita tak tahu, entah berapa rumah yang telah mereka lewati, berapa lampu merah yang mereka singgahi, berapa pembeli dalam sehari, belum lagi mereka yang siang malam tinggal dikolong jembatan, dipinggir-pinggir toko dan hanya beralaskan koran. Pernahkan anda berpikir jika yang mengalami itu semua adalah diri kita?atau mereka yang setiap hari berkeliling berjalan kaki menjual celana adalah bapak kita?atau dia yang duduk di pojok pasar menjual ketan adalah ibu kita?.  <em>Fabiayyi aa laa i robbikumaa tukadzibaan (Maka ni'mat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan? Ar-Rohman[55:13])</em>.</p>
<p style="outline-width: 0px; outline-style: initial; outline-color: initial; vertical-align: baseline; background-image: initial; background-repeat: initial; background-attachment: initial; -webkit-background-clip: initial; -webkit-background-origin: initial; background-color: transparent; margin-top: 1px; margin-right: 0px; margin-bottom: 10px; margin-left: 0px; font-size: 1.2em; background-position: initial initial; padding: 2px; border: 0px initial initial;">Sungguh besyukurlah dia yang hidup dalam tuntunan agama. Ketaqwaan selalu dibawanya. Kesabaran selalu meliputinya. Panas dan hujan bukanlah halangan. Semua dijalani dengan niatan ibadah. Hanya karena mengharap Ridho Allah semata.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.opick.net/2009/08/28/lihat-kebawah-bukan-keatas.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Aku ingin mencintaimu dengan sederhana</title>
		<link>http://www.opick.net/2009/08/19/aku-ingin-mencintaimu-dengan-sederhana.html</link>
		<comments>http://www.opick.net/2009/08/19/aku-ingin-mencintaimu-dengan-sederhana.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 19 Aug 2009 10:01:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Al-Kisah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.opick.net/?p=91</guid>
		<description><![CDATA[Aku memandang kalender yang terletak di meja dengan kesal. Sabtu, 30 Maret 2002, hari ulang tahun perkawinan kami yang ketiga. Dan untuk ketiga kalinya pula Aa’ lupa. Ulang tahun pertama, Aa’ lupa karena harus rapat dengan direksi untuk menyelesaikan beberapa masalah keuangan perusahaan. Sebagai Direktur keuangan, Aa’ memang berkewajiban menyelesaikan masalah tersebut. Baiklah, aku maklum. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-full wp-image-92" title="1525308681_45e1045620_m" src="http://www.opick.net/wp-content/uploads/2009/08/1525308681_45e1045620_m.jpg" alt="1525308681_45e1045620_m" width="240" height="181" />Aku memandang kalender yang terletak di meja dengan kesal. Sabtu, 30 Maret 2002, hari ulang tahun perkawinan kami yang ketiga. Dan untuk ketiga kalinya pula Aa’ lupa. Ulang tahun pertama, Aa’ lupa karena harus rapat dengan direksi untuk menyelesaikan beberapa masalah keuangan perusahaan. Sebagai Direktur keuangan, Aa’ memang berkewajiban menyelesaikan masalah tersebut. Baiklah, aku maklum. Persoalan saat itu memang lumayan pelik.<span id="more-91"></span></p>
<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow-x: hidden; overflow-y: hidden;">Ulang tahun kedua, Aa’ harus keluar kota untuk melakukan presentasi. Kesibukannya membuatnya lupa. Dan setelah minta maaf, waktu aku menyatakan kekesalanku, dengan kalem ia menyahut,” Dik, toh aku sudah membuktikan cintaku sepanjang tahun. Hari itu tidak dirayakan kan tidak apa-apa. Cinta kan tidak butuh upacara…”</div>
<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow-x: hidden; overflow-y: hidden;">Sekarang, pagi-pagi ia sudah pamit ke kantor karena harus menyiapkan beberapa dokumen rapat. Ia pamit saat aku berada di kamar mandi. Aku memang sengaja tidak mengingatkannya tentang ulang tahun perkawinan kami. Aku ingin mengujinya, apakah ia ingat atau tidak kali ini. Nyatanya? Aku menarik napas panjang.</div>
<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow-x: hidden; overflow-y: hidden;">Heran, apa sih susahnya mengingat hari ulang tahun perkawinan sendiri? Aku mendengus kesal. Aa’ memang berbeda dengan aku. Ia kalem dan tidak ekspresif, apalagi romantis. Maka, tidak pernah ada bunga pada momen-momen istimewa atau puisi yang dituliskan di selembar kertas merah muda seperti yang sering kubayangkan saat sebelum aku menikah.</div>
<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow-x: hidden; overflow-y: hidden;">Sedangkan aku, ekspresif dan romantis. Aku selalu memberinya hadiah dengan kata-kata manis setiap hari ulang tahunnya. Aku juga tidak lupa mengucapkan berpuluh kali kata I love you setiap minggu. Mengirim pesan, bahkan puisi lewat sms saat ia keluar kota. Pokoknya, bagiku cinta harus diekspresikan dengan jelas. Karena kejelasan juga bagian dari cinta.</div>
<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow-x: hidden; overflow-y: hidden;">Aku tahu, kalau aku mencintai Aa’, aku harus menerimanya apa adanya. Tetapi, masak sih orang tidak mau berubah dan belajar? Bukankah aku sudah mengajarinya untuk bersikap lebih romantis? Ah, pokoknya aku kesal titik. Dan semua menjadi tidak menyenangkan bagiku. Aku uring-uringan. Aa’ jadi benar-benar menyebalkan di mataku. Aku mulai menghitung-hitung waktu dan perhatian yang diberikannya kepadaku dalam tiga tahun perkawinan kami. Tidak ada akhir minggu yang santai. Jarang sekali kami sempat pergi berdua untuk makan malam di luar. Waktu luang biasanya dihabiskannya untuk tidur sepanjang hari. Jadilah aku manyun sendiri hampir setiap hari minggu dan cuma bisa memandangnya mendengkur dengan manis di tempat tidur.</div>
<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow-x: hidden; overflow-y: hidden;">Rasa kesalku semakin menjadi. Apalagi, hubungan kami seminggu ini memang sedang tidak baik. Kami berdua sama-sama letih. Pekerjaan yang bertumpuk di tempat tugas kami masing-masing membuat kami bertemu di rumah dalam keadaan sama-sama letih dan mudah tersinggung satu sama lain. Jadilah, beberapa kali kami bertengkar minggu ini.</div>
<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow-x: hidden; overflow-y: hidden;">Sebenarnya, hari ini aku sudah mengosongkan semua jadual kegiatanku. Aku ingin berdua saja dengannya hari ini dan melakukan berbagai hal menyenangkan. Mestinya, Sabtu ini ia libur. Tetapi, begitulah Aa’. Sulit sekali baginya meninggalkan pekerjaannya, bahkan pada akhir pekan seperti ini. Mungkin, karena kami belum mempunyai anak. Sehingga ia tidak merasa perlu untuk meluangkan waktu pada akhir pekan seperti ini.</div>
<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow-x: hidden; overflow-y: hidden;">”Hen, kamu yakin mau menerima lamaran A’ Ridwan?” Diah sahabatku menatapku heran. ”Kakakku itu enggak romantis, lho. Tidak seperti suami romantis yang sering kau bayangkan. Dia itu tipe laki-laki serius yang hobinya bekerja keras. Baik sih, soleh, setia… Tapi enggak humoris. Pokoknya, hidup sama dia itu datar. Rutin dan membosankan. Isinya cuma kerja, kerja dan kerja…” Diah menyambung panjang lebar. Aku cuma senyum-senyum saja saat itu. Aa’ memang menanyakan kesediaanku untuk menerima lamaranku lewat Diah.</div>
<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow-x: hidden; overflow-y: hidden;">”Kamu kok gitu, sih? Enggak senang ya kalau aku jadi kakak iparmu?” tanyaku sambil cemberut. Diah tertawa melihatku. ”Yah, yang seperti ini mah tidak akan dilayani. Paling ditinggal pergi sama A’ Ridwan.” Diah tertawa geli. ”Kamu belum tahu kakakku, sih!” Tetapi, apapun kata Diah, aku telah bertekad untuk menerima lamaran Aa’. Aku yakin kami bisa saling menyesuaikan diri. Toh ia laki-laki yang baik. Itu sudah lebih dari cukup buatku.</div>
<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow-x: hidden; overflow-y: hidden;">Minggu-minggu pertama setelah perkawinan kami tidak banyak masalah berarti. Seperti layaknya pengantin baru, Aa’ berusaha romantis. Dan aku senang. Tetapi, semua berakhir saat masa cutinya berakhir. Ia segera berkutat dengan segala kesibukannya, tujuh hari dalam seminggu. Hampir tidak ada waktu yang tersisa untukku. Ceritaku yang antusias sering hanya ditanggapinya dengan ehm, oh, begitu ya… Itupun sambil terkantuk-kantuk memeluk guling. Dan, aku yang telah berjam-jam menunggunya untuk bercerita lantas kehilangan selera untuk melanjutkan cerita.</div>
<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow-x: hidden; overflow-y: hidden;">Begitulah… aku berusaha mengerti dan menerimanya. Tetapi pagi ini, kekesalanku kepadanya benar-benar mencapai puncaknya. Aku izin ke rumah ibu. Kukirim sms singkat kepadanya. Kutunggu. Satu jam kemudian baru kuterima jawabannya. Maaf, aku sedang rapat. Hati-hati. Salam untuk Ibu. Tuh, kan. Lihat. Bahkan ia membutuhkan waktu satu jam untuk membalas smsku. Rapat, presentasi, laporan keuangan, itulah saingan yang merebut perhatian suamiku.</div>
<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow-x: hidden; overflow-y: hidden;">Aku langsung masuk ke bekas kamarku yang sekarang ditempati Riri adikku. Kuhempaskan tubuhku dengan kesal. Aku baru saja akan memejamkan mataku saat samar-samar kudengar Ibu mengetuk pintu. Aku bangkit dengan malas.</div>
<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow-x: hidden; overflow-y: hidden;">”Kenapa Hen? Ada masalah dengan Ridwan?” Ibu membuka percakapan tanpa basa-basi. Aku mengangguk. Ibu memang tidak pernah bisa dibohongi. Ia selalu berhasil menebak dengan jitu.</div>
<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow-x: hidden; overflow-y: hidden;">Walau awalnya tersendat, akhirnya aku bercerita juga kepada Ibu. Mataku berkaca-kaca. Aku menumpahkan kekesalanku kepada Ibu. Ibu tersenyum mendengar ceritaku. Ia mengusap rambutku. ”Hen, mungkin semua ini salah Ibu dan Bapak yang terlalu memanjakan kamu. Sehingga kamu menjadi terganggu dengan sikap suamimu. Cobalah, Hen pikirkan baik-baik. Apa kekurangan Ridwan? Ia suami yang baik. Setia, jujur dan pekerja keras. Ridwan itu tidak pernah kasar sama kamu, rajin ibadah. Ia juga baik dan hormat kepada Ibu dan Bapak. Tidak semua suami seperti dia, Hen. Banyak orang yang dizholimi suaminya. Na’udzubillah!” Kata Ibu.</div>
<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow-x: hidden; overflow-y: hidden;">Aku terdiam. Yah, betul sih apa yang dikatakan Ibu. ”Tapi Bu, dia itu keterlaluan sekali. Masak Ulang tahun perkawinan sendiri tiga kali lupa. Lagi pula, dia itu sama sekali tidak punya waktu buat aku. Aku kan istrinya, bu. Bukan cuma bagian dari perabot rumah tangga yang hanya perlu ditengok sekali-sekali.” Aku masih kesal. Walaupun dalam hati aku membenarkan apa yang diucapkan Ibu.</div>
<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow-x: hidden; overflow-y: hidden;">Ya, selain sifat kurang romantisnya, sebenarnya apa kekurangan Aa’? Hampir tidak ada. Sebenarnya, ia berusaha sekuat tenaga untuk membahagiakanku dengan caranya sendiri. Ia selalu mendorongku untuk menambah ilmu dan memperluas wawasanku. Ia juga selalu menyemangatiku untuk lebih rajin beribadah dan selalu berbaik sangka kepada orang lain. Soal kesetiaan? Tidak diragukan. Diah satu kantor dengannya. Dan ia selalu bercerita denganku bagaimana Aa’ bersikap terhadap rekan-rekan wanitanya di kantor. Aa’ tidak pernah meladeni ajakan Anita yang tidak juga bosan menggoda dan mengajaknya kencan. Padahal kalau mau, dengan penampilannya yang selalu rapi dan cool seperti itu, tidak sulit buatnya menarik perhatian lawan jenis.</div>
<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow-x: hidden; overflow-y: hidden;">”Hen, kalau kamu merasa uring-uringan seperti itu, sebenarnya bukan Ridwan yang bermasalah. Persoalannya hanya satu, kamu kehilangan rasa syukur…” Ibu berkata tenang.</div>
<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow-x: hidden; overflow-y: hidden;">Aku memandang Ibu. Perkataan Ibu benar-benar menohokku. Ya, Ibu benar. Aku kehilangan rasa syukur. Bukankah baru dua minggu yang lalu aku membujuk Ranti, salah seorang sahabatku yang stres karena suaminya berselingkuh dengan wanita lain dan sangat kasar kepadanya? Bukankah aku yang mengajaknya ke dokter untuk mengobati memar yang ada di beberapa bagian tubuhnya karena dipukuli suaminya?</div>
<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow-x: hidden; overflow-y: hidden;">Pelan-pelan, rasa bersalah timbul dalam hatiku. Kalau memang aku ingin menghabiskan waktu dengannya hari ini, mengapa aku tidak mengatakannya jauh-jauh hari agar ia dapat mengatur jadualnya? Bukankah aku bisa mengingatkannya dengan manis bahwa aku ingin pergi dengannya berdua saja hari ini. Mengapa aku tidak mencoba mengatakan kepadanya, bahwa aku ingin ia bersikap lebih romantis? Bahwa aku merasa tersisih karena kesibukannya? Bahwa aku sebenarnya takut tidak lagi dicintai?</div>
<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow-x: hidden; overflow-y: hidden;">Aku segera pamit kepada Ibu. Aku bergegas pulang untuk membereskan rumah dan menyiapkan makan malam yang romantis di rumah. Aku tidak memberitahunya. Aku ingin membuat kejutan untuknya.</div>
<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow-x: hidden; overflow-y: hidden;">Makan malam sudah siap. Aku menyiapkan masakan kegemaran Aa’ lengkap dengan rangkaian mawar merah di meja makan. Jam tujuh malam, Aa’ belum pulang. Aku menunggu dengan sabar. Jam sembilan malam, aku hanya menerima smsnya. Maaf aku terlambat pulang. Tugasku belum selesai. Makanan di meja sudah dingin. Mataku sudah berat, tetapi aku tetap menunggunya di ruang tamu.</div>
<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow-x: hidden; overflow-y: hidden;">Aku terbangun dengan kaget. Ya Allah, aku tertidur. Kulirik jam dinding, jam 11 malam. Aku bangkit. Seikat mawar merah tergeletak di meja. Di sebelahnya, tergeletak kartu ucapan dan kotak perhiasan mungil. Aa’ tertidur pulas di karpet. Ia belum membuka dasi dan kaos kakinya.</div>
<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow-x: hidden; overflow-y: hidden;">Kuambil kartu ucapan itu dan kubuka. Sebait puisi membuatku tersenyum.</div>
<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow-x: hidden; overflow-y: hidden;">Aku ingin mencintaimu dengan sederhana</div>
<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow-x: hidden; overflow-y: hidden;">Lewat kata yang tak sempat disampaikan</div>
<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow-x: hidden; overflow-y: hidden;">Awan kepada air yang menjadikannya tiada</div>
<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow-x: hidden; overflow-y: hidden;">Aku ingin mencintaimu dengan sederhana</div>
<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow-x: hidden; overflow-y: hidden;">Dengan kata yang tak sempat diucapkan</div>
<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow-x: hidden; overflow-y: hidden;">Kayu kepada api yang menjadikannya abu. *</div>
<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow-x: hidden; overflow-y: hidden;">For vieny, welcome to your husband’s heart.</div>
<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow-x: hidden; overflow-y: hidden;">*dikutip dari Aku ingin mencintaimu dengan sederhana karya Sapardi Djoko Damono.</div>
<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow-x: hidden; overflow-y: hidden;">Sumber : Majalah Ummi, edisi 12/XIII/2002</div>
<p>Ulang tahun kedua, Aa’ harus keluar kota untuk melakukan presentasi. Kesibukannya membuatnya lupa. Dan setelah minta maaf, waktu aku menyatakan kekesalanku, dengan kalem ia menyahut,” Dik, toh aku sudah membuktikan cintaku sepanjang tahun. Hari itu tidak dirayakan kan tidak apa-apa. Cinta kan tidak butuh upacara…”.</p>
<p>Sekarang, pagi-pagi ia sudah pamit ke kantor karena harus menyiapkan beberapa dokumen rapat. Ia pamit saat aku berada di kamar mandi. Aku memang sengaja tidak mengingatkannya tentang ulang tahun perkawinan kami. Aku ingin mengujinya, apakah ia ingat atau tidak kali ini. Nyatanya? Aku menarik napas panjang.</p>
<p>Heran, apa sih susahnya mengingat hari ulang tahun perkawinan sendiri? Aku mendengus kesal. Aa’ memang berbeda dengan aku. Ia kalem dan tidak ekspresif, apalagi romantis. Maka, tidak pernah ada bunga pada momen-momen istimewa atau puisi yang dituliskan di selembar kertas merah muda seperti yang sering kubayangkan saat sebelum aku menikah.</p>
<p>Sedangkan aku, ekspresif dan romantis. Aku selalu memberinya hadiah dengan kata-kata manis setiap hari ulang tahunnya. Aku juga tidak lupa mengucapkan berpuluh kali kata I love you setiap minggu. Mengirim pesan, bahkan puisi lewat sms saat ia keluar kota. Pokoknya, bagiku cinta harus diekspresikan dengan jelas. Karena kejelasan juga bagian dari cinta.</p>
<p>Aku tahu, kalau aku mencintai Aa’, aku harus menerimanya apa adanya. Tetapi, masak sih orang tidak mau berubah dan belajar? Bukankah aku sudah mengajarinya untuk bersikap lebih romantis? Ah, pokoknya aku kesal titik. Dan semua menjadi tidak menyenangkan bagiku. Aku uring-uringan. Aa’ jadi benar-benar menyebalkan di mataku. Aku mulai menghitung-hitung waktu dan perhatian yang diberikannya kepadaku dalam tiga tahun perkawinan kami. Tidak ada akhir minggu yang santai. Jarang sekali kami sempat pergi berdua untuk makan malam di luar. Waktu luang biasanya dihabiskannya untuk tidur sepanjang hari.</p>
<p>Jadilah aku manyun sendiri hampir setiap hari minggu dan cuma bisa memandangnya mendengkur dengan manis di tempat tidur. Rasa kesalku semakin menjadi. Apalagi, hubungan kami seminggu ini memang sedang tidak baik. Kami berdua sama-sama letih. Pekerjaan yang bertumpuk di tempat tugas kami masing-masing membuat kami bertemu di rumah dalam keadaan sama-sama letih dan mudah tersinggung satu sama lain. Jadilah, beberapa kali kami bertengkar minggu ini. Sebenarnya, hari ini aku sudah mengosongkan semua jadual kegiatanku. Aku ingin berdua saja dengannya hari ini dan melakukan berbagai hal menyenangkan. Mestinya, Sabtu ini ia libur. Tetapi, begitulah Aa’. Sulit sekali baginya meninggalkan pekerjaannya, bahkan pada akhir pekan seperti ini. Mungkin, karena kami belum mempunyai anak. Sehingga ia tidak merasa perlu untuk meluangkan waktu pada akhir pekan seperti ini.</p>
<p>”Hen, kamu yakin mau menerima lamaran A’ Ridwan?” Diah sahabatku menatapku heran. ”Kakakku itu enggak romantis, lho. Tidak seperti suami romantis yang sering kau bayangkan. Dia itu tipe laki-laki serius yang hobinya bekerja keras. Baik sih, soleh, setia… Tapi enggak humoris. Pokoknya, hidup sama dia itu datar. Rutin dan membosankan. Isinya cuma kerja, kerja dan kerja…” Diah menyambung panjang lebar. Aku cuma senyum-senyum saja saat itu. Aa’ memang menanyakan kesediaanku untuk menerima lamaranku lewat Diah.</p>
<p>”Kamu kok gitu, sih? Enggak senang ya kalau aku jadi kakak iparmu?” tanyaku sambil cemberut. Diah tertawa melihatku. ”Yah, yang seperti ini mah tidak akan dilayani. Paling ditinggal pergi sama A’ Ridwan.” Diah tertawa geli. ”Kamu belum tahu kakakku, sih!” Tetapi, apapun kata Diah, aku telah bertekad untuk menerima lamaran Aa’. Aku yakin kami bisa saling menyesuaikan diri. Toh ia laki-laki yang baik. Itu sudah lebih dari cukup buatku.</p>
<p>Minggu-minggu pertama setelah perkawinan kami tidak banyak masalah berarti. Seperti layaknya pengantin baru, Aa’ berusaha romantis. Dan aku senang. Tetapi, semua berakhir saat masa cutinya berakhir. Ia segera berkutat dengan segala kesibukannya, tujuh hari dalam seminggu. Hampir tidak ada waktu yang tersisa untukku. Ceritaku yang antusias sering hanya ditanggapinya dengan ehm, oh, begitu ya… Itupun sambil terkantuk-kantuk memeluk guling. Dan, aku yang telah berjam-jam menunggunya untuk bercerita lantas kehilangan selera untuk melanjutkan cerita.</p>
<p>Begitulah… aku berusaha mengerti dan menerimanya. Tetapi pagi ini, kekesalanku kepadanya benar-benar mencapai puncaknya. Aku izin ke rumah ibu. Kukirim sms singkat kepadanya. Kutunggu. Satu jam kemudian baru kuterima jawabannya. Maaf, aku sedang rapat. Hati-hati. Salam untuk Ibu. Tuh, kan. Lihat. Bahkan ia membutuhkan waktu satu jam untuk membalas smsku. Rapat, presentasi, laporan keuangan, itulah saingan yang merebut perhatian suamiku. Aku langsung masuk ke bekas kamarku yang sekarang ditempati Riri adikku. Kuhempaskan tubuhku dengan kesal. Aku baru saja akan memejamkan mataku saat samar-samar kudengar Ibu mengetuk pintu. Aku bangkit dengan malas.</p>
<p>”Kenapa Hen? Ada masalah dengan Ridwan?” Ibu membuka percakapan tanpa basa-basi. Aku mengangguk. Ibu memang tidak pernah bisa dibohongi. Ia selalu berhasil menebak dengan jitu. Walau awalnya tersendat, akhirnya aku bercerita juga kepada Ibu. Mataku berkaca-kaca. Aku menumpahkan kekesalanku kepada Ibu. Ibu tersenyum mendengar ceritaku. Ia mengusap rambutku. ”Hen, mungkin semua ini salah Ibu dan Bapak yang terlalu memanjakan kamu. Sehingga kamu menjadi terganggu dengan sikap suamimu. Cobalah, Hen pikirkan baik-baik. Apa kekurangan Ridwan? Ia suami yang baik. Setia, jujur dan pekerja keras. Ridwan itu tidak pernah kasar sama kamu, rajin ibadah. Ia juga baik dan hormat kepada Ibu dan Bapak. Tidak semua suami seperti dia, Hen. Banyak orang yang dizholimi suaminya. Na’udzubillah!” Kata Ibu.</p>
<p>Aku terdiam. Yah, betul sih apa yang dikatakan Ibu. ”Tapi Bu, dia itu keterlaluan sekali. Masak Ulang tahun perkawinan sendiri tiga kali lupa. Lagi pula, dia itu sama sekali tidak punya waktu buat aku. Aku kan istrinya, bu. Bukan cuma bagian dari perabot rumah tangga yang hanya perlu ditengok sekali-sekali.” Aku masih kesal. Walaupun dalam hati aku membenarkan apa yang diucapkan Ibu.</p>
<p>Ya, selain sifat kurang romantisnya, sebenarnya apa kekurangan Aa’? Hampir tidak ada. Sebenarnya, ia berusaha sekuat tenaga untuk membahagiakanku dengan caranya sendiri. Ia selalu mendorongku untuk menambah ilmu dan memperluas wawasanku. Ia juga selalu menyemangatiku untuk lebih rajin beribadah dan selalu berbaik sangka kepada orang lain. Soal kesetiaan? Tidak diragukan. Diah satu kantor dengannya. Dan ia selalu bercerita denganku bagaimana Aa’ bersikap terhadap rekan-rekan wanitanya di kantor. Aa’ tidak pernah meladeni ajakan Anita yang tidak juga bosan menggoda dan mengajaknya kencan. Padahal kalau mau, dengan penampilannya yang selalu rapi dan cool seperti itu, tidak sulit buatnya menarik perhatian lawan jenis.</p>
<p>”Hen, kalau kamu merasa uring-uringan seperti itu, sebenarnya bukan Ridwan yang bermasalah. Persoalannya hanya satu, kamu kehilangan rasa syukur…” Ibu berkata tenang. Aku memandang Ibu. Perkataan Ibu benar-benar menohokku. Ya, Ibu benar. Aku kehilangan rasa syukur. Bukankah baru dua minggu yang lalu aku membujuk Ranti, salah seorang sahabatku yang stres karena suaminya berselingkuh dengan wanita lain dan sangat kasar kepadanya? Bukankah aku yang mengajaknya ke dokter untuk mengobati memar yang ada di beberapa bagian tubuhnya karena dipukuli suaminya?</p>
<p>Pelan-pelan, rasa bersalah timbul dalam hatiku. Kalau memang aku ingin menghabiskan waktu dengannya hari ini, mengapa aku tidak mengatakannya jauh-jauh hari agar ia dapat mengatur jadualnya? Bukankah aku bisa mengingatkannya dengan manis bahwa aku ingin pergi dengannya berdua saja hari ini. Mengapa aku tidak mencoba mengatakan kepadanya, bahwa aku ingin ia bersikap lebih romantis? Bahwa aku merasa tersisih karena kesibukannya? Bahwa aku sebenarnya takut tidak lagi dicintai?</p>
<p>Aku segera pamit kepada Ibu. Aku bergegas pulang untuk membereskan rumah dan menyiapkan makan malam yang romantis di rumah. Aku tidak memberitahunya. Aku ingin membuat kejutan untuknya.</p>
<p>Makan malam sudah siap. Aku menyiapkan masakan kegemaran Aa’ lengkap dengan rangkaian mawar merah di meja makan. Jam tujuh malam, Aa’ belum pulang. Aku menunggu dengan sabar. Jam sembilan malam, aku hanya menerima smsnya. Maaf aku terlambat pulang. Tugasku belum selesai. Makanan di meja sudah dingin. Mataku sudah berat, tetapi aku tetap menunggunya di ruang tamu.</p>
<p>Aku terbangun dengan kaget. Ya Allah, aku tertidur. Kulirik jam dinding, jam 11 malam. Aku bangkit. Seikat mawar merah tergeletak di meja. Di sebelahnya, tergeletak kartu ucapan dan kotak perhiasan mungil. Aa’ tertidur pulas di karpet. Ia belum membuka dasi dan kaos kakinya.</p>
<p>Kuambil kartu ucapan itu dan kubuka. Sebait puisi membuatku tersenyum.</p>
<p>Aku ingin mencintaimu dengan sederhana<br />
Lewat kata yang tak sempat disampaikan<br />
Awan kepada air yang menjadikannya tiada<br />
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana<br />
Dengan kata yang tak sempat diucapkan<br />
Kayu kepada api yang menjadikannya abu. *</p>
<p>*dikutip dari Aku ingin mencintaimu dengan sederhana karya Sapardi Djoko Damono.</p>
<p>Penulis : Inayati<br />
Sumber : Majalah Ummi, edisi 12/XIII/2002</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.opick.net/2009/08/19/aku-ingin-mencintaimu-dengan-sederhana.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Walaupun Badai Menghadang, Tetaplah Berpegang Teguh Dengan Agama Ini</title>
		<link>http://www.opick.net/2009/08/19/walaupun-badai-menghadang-tetaplah-berpegang-teguh-dengan-agama-ini.html</link>
		<comments>http://www.opick.net/2009/08/19/walaupun-badai-menghadang-tetaplah-berpegang-teguh-dengan-agama-ini.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 19 Aug 2009 09:59:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Al-Ilmu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.opick.net/?p=89</guid>
		<description><![CDATA[Ketahuilah saudaraku… zaman yang kita hidup saat ini sungguh sangat memberatkan. Setiap orang yang menjalankan ajaran Nabishallallahu ‘alaihi wa sallam pasti akan mendapatkan cemoohan. Malah orang yang bergelimang dengan kemaksiatan dan bid’ah itulah yang sering mendapatkan pujian.
Jika kita lihat, kaum muslimin malah sering mencemooh orang yang berpegang teguh dengan ajaran Islam. Orang yang bercadar dibilang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ketahuilah saudaraku… zaman yang kita hidup saat ini sungguh sangat memberatkan. Setiap orang yang menjalankan ajaran Nabi<em style="font-style: italic;">shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> pasti akan mendapatkan cemoohan. Malah orang yang bergelimang dengan kemaksiatan dan bid’ah itulah yang sering mendapatkan pujian.</p>
<p>Jika kita lihat, kaum muslimin malah sering mencemooh orang yang berpegang teguh dengan ajaran Islam. Orang yang bercadar dibilang ‘ninja’. Orang yang berjenggot dibilang ‘kambing’. Orang yang celananya <em style="font-style: italic;">cingkrang</em> (di atas mata kaki) dibilang ‘kebanjiran’. Bahkan orang-orang seperti ini dimasukkan ke dalam aliran sesat seperti orang yang celananya <em style="font-style: italic;">cingkrang</em> malah dikatakan LDII (yang dulu bernama LEMKARI dan telah dinyatakan sebagai aliran sesat oleh MUI).</p>
<p>Tetapi kami sangat mengherankan. Tidak ada orang yang mencela artis yang goyang ‘ngebor’, yang berpose telanjang di majalah-majalah. Malah yang dicela dan diejek adalah orang-orang yang memakai jilbab atau memakai cadar yang melaksanakan ajaran Nabi.<span id="more-89"></span></p>
<p>Begitu juga yang sering dicemooh adalah orang yang berjenggot dengan gelaran ‘kambing’. Malah orang yang sering mencukur jenggot dan tentu saja dengan mengeluarkan biaya yang termasuk pemborosan tidak dicela.</p>
<p>Orang yang memakai celana di atas mata kaki juga demikian, sering sekali dicemooh. Padahal celana di atas mata kaki akan membuat celana semakin bersih dan terhindar dari najis sebagaimana disebutkan dalam hadits yang sudah kami bawakan sebelumnya. Orang-orang yang celananya biasa menyeret tanah biasanya tidak dicela, padahal model celana semacam itu lebih mudah terkena najis.</p>
<p>Itulah keadaan dunia saat ini. Semua serba terbalik. Pemikiran manusia saat ini sudah tak karuan. Yang baik dibilang jelek dan yang jelek dibilang baik.</p>
<p>Oleh karena itu, banyak di antara saudara-saudara kami yang sebelumnya memang istiqomah dengan agama ini perlahan-lahan pun melepaskan agamanya. Di antara sebabnya adalah adanya berbagai cemoohan dari masyarakat.</p>
<p>Di antara saudara-saudara kami sebelumnya sangat bersemangat sekali memakai celana di atas mata kaki dan memelihara <em style="font-style: italic;">lihyah</em>(jenggot) sehingga terlihat begitu gagah dengan salah satu tanda kepriaannya. Namun dikarenakan adanya teguran dari orang tua yang belum memahami agama; atau karena tidak mendapatkan suasana lingkungan yang mendukung dengan seringnya bergaul bersama orang-orang yang fasik; atau dikarenakan pula tuntutan dunia kerja yang mengharuskan mencukur jenggot dan celana tidak boleh <em style="font-style: italic;">cingkrang</em>, maka di antara saudara kami -yang kami sangat merindukan mereka kembali kepada kebenaran yang mereka pegang dahulu- secara berangsur-angsur menghilangkan ajaran Nabi pada dirinya. -<em style="font-style: italic;">Na’udzu billahi mindzalik</em>-</p>
<p>Tulisan terakhir ini adalah lembaran yang kami sengaja sajikan kepada saudara-saudara kami, agar mereka hendaknya kembali ke jalan yang dulu mereka tempuh.</p>
<p>Saudaraku … sebagian ayat dan hadits agar seorang muslim harus berpegang teguh dengan ajaran Nabi telah kami jelaskan. Selanjutnya perhatikanlah hadits berikut, semoga kalian mendapatkan petunjuk dan hidayah dari Allah <em style="font-style: italic;">Ta’ala</em>.</p>
<p>Aisyah <em style="font-style: italic;">radhiyallahu ‘anha</em> pernah menuliskan surat kepada Mu’awiyah. Isinya sebagai berikut.</p>
<p>“Salam untukmu. Amma Ba’du. Sesungguhnya aku mendengar Rasulullah <em style="font-style: italic;">shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda, <em style="font-style: italic;">‘Barang siapa mencari ridho Allah dengan membuat manusia murka, maka Allah akan bereskan urusannya dengan sesama manusia. Tetapi barang siapa mencari ridho manusia dengan membuat Allah murka maka Allah akan serahkan orang tersebut kepada manusia’</em><em style="font-style: italic;">Wassalamu ‘alaika.” </em>(HR. Tirmidzi. Dalam <em style="font-style: italic;">As Silsilah Ash Shohihah</em>, Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini <em style="font-style: italic;">shohih</em>)</p>
<p>Syaikh Muhammad bin Sholih Al Utsaimin dalam <em style="font-style: italic;">Al Qoulul Mufid </em>mengatakan, “Apabila seseorang mencari ridho Rabbnya dengan niat yang tulus, maka Allah akan ridho kepadanya karena dialah yang paling mulia dari hamba-Nya… karena hati seseorang di antara dua jari dari jari-jemari Allah <em style="font-style: italic;">ta’ala</em>. Allah-lah yang membolak-balikkan hati siapa saja yang dikehendaki-Nya. …Dan barang siapa yang mencari ridha manusia namun membuat Allah murka, maka hasilnya adalah dia akan mendapatkan lawan dari maksudnya tersebut.”</p>
<p>Oleh karena, itu sabarlah saudaraku dengan cemoohan yang ada. Janganlah engkau menanggalkan ajaran Nabimu sehingga membuat Allah murka. Cobalah menjelaskan kepada orang tuamu bahwa ajaran yang kamu pegang adalah ajaran Nabi dan ajaran yang benar, bukan aliran sesat. Jelaskanlah hal ini dengan lemah lembut sebagaimana pada firman Allah <em style="font-style: italic;">Ta’ala</em>,</p>
<p>“<em style="font-style: italic;">Dan ucapkanlah kepada mereka (kedua orang tua</em><em style="font-style: italic;">)</em><em style="font-style: italic;"> perkataan yang mulia.</em>” (QS. Al Isro’ 17: 23)</p>
<p>Dalam <em style="font-style: italic;">tafsir Al Jalalain</em> ditafsirkan dengan ‘ucapkanlah perkataan yang indah dan lemah-lembut’.</p>
<p>Carilah pula teman-teman yang dapat mendukungmu bisa istiqomah. Lihatlah para shahabat Nabi bisa istiqomah karena mereka sering bergaul dengan Nabi <em style="font-style: italic;">shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>. Allah <em style="font-style: italic;">Ta’ala </em>berfirman,</p>
<p>“<em style="font-style: italic;">Bagaimana mungkin (tidak mungkin) kalian menjadi kafir, sedangkan ayat-ayat Allah dibacakan kepada kalian, dan Rasul-Nyapun berada ditengah-tengah kalian? Dan barang siapa yang berpegang teguh kepada (agama) Allah maka sesungguhnya dia telah diberi petunjuk kepada jalan yang lurus</em>” (QS. Ali ‘Imran 3: 101)</p>
<p>Dalam ayat lain Allah berfirman:</p>
<p>“<em style="font-style: italic;">Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar(jujur)</em>” (QS. At Taubah 9: 119)</p>
<p>Dalam sebuah hadits yang hasan, Rasulullah <em style="font-style: italic;">shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda:</p>
<p>“<em style="font-style: italic;">Sesungguhnya di antara manusia ada orang-orang yang keberadaan mereka sebagai pembuka (pintu) kebaikan dan penutup (pintu) </em>kejelekan.” (HR. Ibnu Majah, Al Baihaqi. Dihasankan oleh Syaikh Al Albani). Oleh karena itu, bergaullah dengan orang-orang sholih yang selalu membuka pintu-pintu kebaikan dan mengajarkannya.</p>
<p>Dan kami nasihatkan pula, jika memang tempat kerja yang dicari menawarkan agar jenggot dicukur atau celana diturunkan, maka janganlah terima pekerjaan semacam itu. Ingatlah rezeki Allah itu luas. Masih banyak pekerjaan lain yang bisa dicari. Mengapa kita harus mengorbankan akhirat untuk mendapatkan dunia yang hina? Allah <em style="font-style: italic;">Ta’ala </em>berfirman,</p>
<p>“<em style="font-style: italic;">Dan sesungguhnya hari kemudian itu lebih baik bagimu daripada yang sekarang (permulaan)</em>.” (QS. Adh Dhuha 93: 4)</p>
<p>Ibnu Katsir mengatakan, “Dan negeri akhirat itu lebih baik bagimu dari negeri dunia ini. Oleh karena itu, Rasulullah <em style="font-style: italic;">shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> adalah orang yang paling zuhud di dunia (meninggalkan sesuatu yang tidak bermanfaat demi kehidupan akhirat, pen). Sebagaimana telah diketahui dalam sejarahnya bahwa tatkala beliau disuruh memilih di akhir hidupnya antara hidup kekal di dunia sampai akhirnya kemudian masuk surga ataukah memilih karunia di sisi Allah. Nabi <em style="font-style: italic;">shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> akhirnya memilih apa yang ada di sisi Allah karena dunia adalah hina (<em style="font-style: italic;">daniyah</em>).”</p>
<p>Agar tetap diteguhkan hati ingatlah sebuah do’a yang selalu dibaca oleh Nabi. Ummu Salamah <em style="font-style: italic;">radhiyallahu ‘anha</em> mengatakan bahwa doa yang paling sering dibaca oleh Rasulullah <em style="font-style: italic;">shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> adalah doa,</p>
<p>“<em style="font-style: italic;">Yaa muqollibal qulub tsabbit qolbi ‘ala diinik</em>” artinya ‘Wahai Zat yang membolak-balikkan hati teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu’ (HR. Tirmidzi, Ahmad, Hakim, dishahihkan oleh Adz Dzahabi, lihat pula <em style="font-style: italic;">Shohihul Jami’</em>)</p>
<p><em style="font-style: italic;">Ya Hayyu, Ya Qoyyum</em>. Wahai Zat yang Maha Hidup lagi Maha Kekal. Dengan rahmat-Mu, kami memohon kepada-Mu. Perbaikilah segala urusan kami dan janganlah Engkau sandarkan urusan tersebut pada diri kami, walaupun hanya sekejap mata. <em style="font-style: italic;">Amin Yaa Mujibbas Sa’ilin</em>.</p>
<p>Semoga tulisan ini bermanfaat bagi kaum muslimin. Semoga Allah selalu memberikan ilmu yang bermanfaat, rezeki yang thoyib, dan menjadikan amalan kita diterima di sisi-Nya. <em style="font-style: italic;">Innahu sami’un qoriibum mujibud da’awaat</em>. <em style="font-style: italic;">Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat, wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi wa shohbihi wa sallam.</em></p>
<p>Selesai disusun di Yogyakarta, pada siang hari, hari ke-29 bulan Shofar tahun 1429 H bertepatan dengan hari ‘ied umat Islam setiap pekannya, Jum’at, 07-03-08</p>
<p>Semoga Allah menerima dan membalas amalan ini.</p>
<p>***</p>
<p>Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal, S.T.<br />
<em style="font-style: italic;">(Penuntut Ilmu di Ma’had Al ‘Ilmi Yogyakarta)</em><br />
Muroja’ah: Ustadz Aris Munandar<br />
Artikel www.muslim.or.id</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.opick.net/2009/08/19/walaupun-badai-menghadang-tetaplah-berpegang-teguh-dengan-agama-ini.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Wanita cantik ingin pria kaya</title>
		<link>http://www.opick.net/2009/08/14/wanita-cantik-ingin-pria-kaya.html</link>
		<comments>http://www.opick.net/2009/08/14/wanita-cantik-ingin-pria-kaya.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 14 Aug 2009 01:44:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Al-Kisah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.opick.net/?p=86</guid>
		<description><![CDATA[Seorang gadis muda n cantik, mengirimkan surat ke sebuah majalah
terkenal, dengan judul:Thinking
“Apa yang harus saya lakukan untuk dapat menikah dengan pria kaya?”
Saya jujur ttg apa yang saya katakan di sini. tahun ini saya berumur
25 th saya sangat cantik, mempunyai selera fashion yg bagus. saya
ingin menikahi pria dgn penghasilan min $500ribu/th. anda mungkin
berpikir saya matre, tapi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Seorang gadis muda n cantik, mengirimkan surat ke sebuah majalah<br />
terkenal, dengan judul:Thinking</p>
<p>“Apa yang harus saya lakukan untuk dapat menikah dengan pria kaya?”</p>
<p>Saya jujur ttg apa yang saya katakan di sini. tahun ini saya berumur<br />
25 th saya sangat cantik, mempunyai selera fashion yg bagus. saya<br />
ingin menikahi pria dgn penghasilan min $500ribu/th. anda mungkin<br />
berpikir saya matre, tapi penghasilan $1juta/th hanya dianggap sebagai<br />
kelas menengah di New York. persyaratan saya tidak tinggi. apakah ada<br />
di forum ini mempunyai penghasilan $500ribu/tahun? apa kalian semua<br />
sudah menikah? yang saya ingin tanyakan: apa yang harus saya lakukan<br />
untuk menikahi orang kaya seperti anda?<br />
dengan kerendahan hati, saya ingin menanyakan: imana para lajang2 kaya hang out?<br />
kisaran umur berapa yang harus saya cari? mengapa kebanyakan istri dari<br />
orang2 kaya hanya berpenampilan standar? saya pernah bertemu dgn<br />
beberapa wanita yang memiliki penampilan tidak menarik, tapi mereka<br />
bisa menikahi pria kaya?<br />
bagaimana, anda memutuskan, siapa yang bisa menjadi istrimu, dan siapa<br />
yang hanya bisa menjadi pacar?</p>
<p>ttd.<br />
Si Cantik Dont tell anyone<span id="more-86"></span></p>
<p>Inilah balasan dari seorang pria yang bekerja di Financial Wall Street:</p>
<p>saya telah membaca surat mu dengan semangat. saya rasa banyak gadis2<br />
di luar sana yang mempunyai pertanyaan yang sama. ijinkan saya untuk<br />
menganalisa situasi mu sbg seorang profesional.</p>
<p>pendapatan tahunan saya&gt;$500rb, sesuai syaratmu, jadi saya harap<br />
semuanya tidak berpikir saya main2 disini. dari sisi seorang bisnis,<br />
merupakan keputusan salah untuk menikahimu. jawabannya mudah saja,<br />
saya coba jelaskan, coba tempatkan “kecantikan” dan “uang” bersisian,<br />
dimana anda mencoba menukar kecantikan dgn uang: pihak A menyediakan<br />
kecantikan, dan pihak B membayar untuk itu, hal yg masuk akal. tapi<br />
ada masalah disini, kecantikan anda akan menghilang, tapi uang saya<br />
tidak akan hilang tanpa ada alasan yang bagus. faktanya, pendapatan<br />
saya mungkin akan meningkat dari tahun ke tahun, tapi anda tidak akan<br />
bertambah cantik tahun demi tahun.</p>
<p>Karena itu, dari sudut pandang ekonomi, saya adalah aset yang akan<br />
meningkat, dan anda adalah aset yang akan menyusut. bukan hanya<br />
penyusutan normal, tapi penyusutan eksponensial.</p>
<p>jika hanya (kecantikan) itu aset anda, nilai anda akan sangat<br />
mengkhawatirkan 10 tahun mendatang. dari aturan yg kita gunakan di<br />
Wall Street, setiap pertukaran memiliki posisi, kencan dengan anda<br />
juga merupakan posisi tukar. jika nilai tukar turun, kita akan<br />
menjualnya dan adalah ide buruk untuk menyimpan dalam jangka lama,<br />
seperti pernikahan yang anda inginkan. mungkin terdengar kasar, tapi<br />
untuk membuat keputusan bijaksana, setiap aset dengan nilai depresiasi<br />
besar akan di jual atau “disewakan.. ” siapa saja dengan penghasilan<br />
tahunan $500rb, bukan orang bodoh, kami hanya berkencan dengan anda,<br />
tapi tidak akan menikahi anda.</p>
<p>Saya menyarankan agar anda lupakan saja untuk mencari cara menikahi<br />
orang kaya. lebih baik anda menjadikan diri anda orang kaya dengan<br />
pendapatan $500rb/tahun. ini kesempatan lebih bagus daripada mencari<br />
orang kaya bodoh. mudah2an balasan ini dapat membantu. Jika anda<br />
tertarik untuk servis “sewa pinjam,” hubungi saya.</p>
<p>ttd,<br />
carlo</p>
<p><em>Sumber : web sebelah</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.opick.net/2009/08/14/wanita-cantik-ingin-pria-kaya.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Teroris Bukan Mujahid dan Bukan Pula Mujtahid!</title>
		<link>http://www.opick.net/2009/08/12/teroris-bukan-mujahid-dan-bukan-pula-mujtahid.html</link>
		<comments>http://www.opick.net/2009/08/12/teroris-bukan-mujahid-dan-bukan-pula-mujtahid.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 12 Aug 2009 13:44:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Al-Ilmu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.opick.net/?p=78</guid>
		<description><![CDATA[Kaum muslimin, semoga Allah membimbing kita di atas jalan-Nya yang lurus. Di hari-hari ini kita bisa melihat dengan mata kepala kita, bagaimana sejarah perjuangan umat Islam kembali dinodai oleh ulah oknum-oknum tidak bertanggung jawab yang mengatasnamakan Islam dan jihad. Dengan seenaknya mereka melakukan tindak pengeboman, penghancuran, serta berupaya untuk mengacaukan ketentraman negeri kaum muslimin dengan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-full wp-image-79" title="bom2" src="http://www.opick.net/wp-content/uploads/2009/08/bom2.jpg" alt="bom2" width="240" height="160" />Kaum muslimin, semoga Allah membimbing kita di atas jalan-Nya yang lurus. Di hari-hari ini kita bisa melihat dengan mata kepala kita, bagaimana sejarah perjuangan umat Islam kembali dinodai oleh ulah oknum-oknum tidak bertanggung jawab yang mengatasnamakan Islam dan jihad. Dengan seenaknya mereka melakukan tindak pengeboman, penghancuran, serta berupaya untuk mengacaukan ketentraman negeri kaum muslimin dengan kedok jihad dan ijtihad. Padahal Allah dan Rasul-Nya berlepas diri dari apa yang mereka lakukan.</p>
<p><span id="more-1215"> </span></p>
<p>Alangkah cocok sebuah bait syair yang menggambarkan keadaan orang-orang seperti mereka,</p>
<p><em>Semua orang mengaku punya hubungan cinta dengan Laila<br />
Namun, malang. Ternyata Laila tidak mengiyakan omongan mereka<span id="more-78"></span></em></p>
<p>Begitulah kurang lebih keadaan mereka. Dengan tanpa malu-malu, mereka mengaku sebagai barisan mujahidin dan menobatkan diri sebagai mujtahid. Bagaimana mungkin orang yang gemar menebar kekacauan dan kerusakan di atas muka bumi dengan membunuh nyawa tanpa hak layak untuk disebut sebagai mujahid, apalagi dinobatkan sebagai mujtahid? Allahul musta’an! Di manakah akal mereka?</p>
<p><strong>Orang-orang yang salah sangka</strong></p>
<p>Saudaraku sekalian, marilah kita renungkan barang sejenak fenomena yang menyayat hati ini. Para pemuda yang jahil/tidak mengerti syari’at Islam dengan mudahnya ditipu oleh mujahid dan mujtahid gadungan. Sehingga akhirnya nyawa mereka sendiri pun mereka relakan -dengan aksi bom bunuh diri- untuk memperjuangkan apa yang mereka kira sebagai sebuah jihad dan pengorbanan untuk agama. Aduhai, alangkah malang nasib mereka. Tidakkah mereka ingat akan sebuah firman Allah yang menceritakan keadaan orang-orang seperti mereka, yang bersusah payah melakukan suatu usaha dan menyangka telah mempersembahkan sesuatu yang terbaik bagi agamanya. Padahal kenyataannya mereka adalah orang yang paling merugi amalnya. Allah ta’ala berfirman,</p>
<p>قُلْ هَلْ نُنَبِّئُكُمْ بِالْأَخْسَرِينَ أَعْمَالًا الَّذِينَ ضَلَّ سَعْيُهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ يَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ يُحْسِنُونَ صُنْعًا</p>
<p><em>“Katakanlah: Maukah aku kabarkan kepada kalian tentang orang-orang yang paling merugi amalnya. Yaitu orang-orang yang sia-sia usahanya di dunia sementara mereka mengira telah melakukan sesuatu kebaikan dengan sebaik-baiknya.”</em> (Qs. al-Kahfi: 103-104)</p>
<p>Ibnu Katsir <em>rahimahullah</em> menyebutkan riwayat dari Ali bin Abi Thalib, ad-Dhahhak dan para ulama lainnya bahwa golongan yang termasuk dalam cakupan ayat ini adalah kaum Haruriyah/Khawarij. Meskipun ayat ini juga mencakup celaan bagi Yahudi dan Nasrani. Sehingga Ibnu Katsir menyimpulkan, “Sesungguhnya ayat ini berlaku umum bagi siapa saja yang beribadah kepada Allah namun tidak di atas jalan yang diridhai Allah. Dia menyangka bahwa dia berada di pihak yang benar dan amalnya akan diterima. Padahal, sebenarnya dia adalah orang yang bersalah dan amalnya tertolak.” (<em>Tafsir al-Qur’an al-’Azhim</em> [5/151-152])</p>
<p><strong>Haram bicara agama tanpa ilmu!</strong></p>
<p>Saudaraku sekalian, sesungguhnya kemuliaan Islam ini akan ternoda tatkala orang yang bukan ahlinya berbicara tentang sesuatu yang menyangkut ajaran agama. Tidakkah kita ingat firman Allah ta’ala,</p>
<p>وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا</p>
<p><em>“Janganlah kamu mengikuti apa-apa yang kamu tidak memiliki ilmu tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, itu semua pasti akan dimintai pertanggungjawabannya.”</em> (Qs. al-Isra’: 36)</p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p>سَيَأْتِي عَلَى النَّاسِ سَنَوَاتٌ خَدَّاعَاتُ يُصَدَّقُ فِيهَا الْكَاذِبُ وَيُكَذَّبُ فِيهَا الصَّادِقُ وَيُؤْتَمَنُ فِيهَا الْخَائِنُ وَيُخَوَّنُ فِيهَا الْأَمِينُ وَيَنْطِقُ فِيهَا الرُّوَيْبِضَةُ قِيلَ وَمَا الرُّوَيْبِضَةُ قَالَ الرَّجُلُ التَّافِهُ فِي أَمْرِ الْعَامَّةِ</p>
<p><em>“Akan datang kepada manusia tahun-tahun yang penuh dengan penipuan. Ketika itu pendusta dibenarkan sedangkan orang yang jujur malah didustakan, pengkhianat dipercaya sedangkan orang yang amanah justru dianggap sebagai pengkhianat. Pada saat itu Ruwaibidhah angkat bicara.” Ada yang bertanya, “Apa yang dimaksud Ruwaibidhah?” Beliau menjawab, “Orang bodoh yang turut campur dalam urusan masyarakat luas.”</em> (HR Ibnu Majah dari Abu Hurairah <em>radhiyallahu’anhu</em>, disahihkan al-Albani dalam <em>as-Shahihah</em> [1887] as-Syamilah)</p>
<p>Ruwaibidhah bukanlah mujtahid. Mujtahid berbicara dengan ilmu, sedangkan Ruwaibidhah berbicara dan berfatwa dengan kejahilan/kebodohan mereka. Perhatikanlah sabda Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>,</p>
<p>إِذَا حَكَمَ الْحَاكِمُ فَاجْتَهَدَ ثُمَّ أَصَابَ فَلَهُ أَجْرَانِ وَإِذَا حَكَمَ فَاجْتَهَدَ ثُمَّ أَخْطَأَ فَلَهُ أَجْرٌ</p>
<p><em>“Apabila seorang hakim hendak memutuskan sesuatu lalu berijtihad kemudian benar maka dia memperoleh dua pahala. Adapun apabila dia akan memutuskan sesuatu lalu berijtihad kemudian tersalah maka dia akan memperoleh satu pahala.”</em> (HR. Bukhari dalam Kitab <em>al-I’tisham bil Kitab wa Sunnah</em> dari Amr bin al-’Ash <em>radhiyallahu’anhu</em>)</p>
<p>al-Hafizh Ibnu Hajar menukil keterangan dari Ibnul Mundzir, beliau mengatakan, “Seorang hakim yang tersalah itu mendapat pahala sesungguhnya hanyalah apabila dia adalah seorang alim/yang berilmu tentang ijtihad kemudian dia pun berijtihad. Adapun apabila dia bukanlah seorang yang alim/berilmu maka dia tidak mendapatkan pahala.” Bahkan apabila dia nekad memutuskan dan mengeluarkan fatwa tanpa ilmu maka dia berdosa, sebagaimana dijelaskan oleh Ibnu Hajar sebelum menukil ucapan Ibnul Mundzir di atas. Beliau juga menukil keterangan dari al-Khatthabi bahwa seorang yang berijtihad akan diberi pahala jika dirinya memang telah memiliki alat-alat/ilmu untuk berijtihad. Orang seperti itulah yang apabila tersalah masih bisa diberi toleransi (lihat <em>Fath al-Bari</em> [13/364])</p>
<p>Syaikh Muhammad bin Husain al-Jizani mengatakan, “Ijtihad tidak boleh dilakukan kecuali oleh seorang yang faqih/ahli hukum agama yang mengetahui dalil-dalil dan tata cara menarik kesimpulan hukum darinya, sebab melakukan penelitian terhadap dalil-dalil tidak mungkin dilakukan -dengan benar- kecuali oleh orang yang memang ahli di dalam bidangnya.” (<em>Ma’alim Ushul Fiqh ‘inda Ahlis Sunnah wal Jama’ah</em>, hal. 470).</p>
<p>Terlebih lagi, untuk berijtihad ada syarat-syaratnya yang tidak sembarang orang bisa memenuhinya. Di antaranya adalah: [1] Memahami seluk beluk sumber hukum yaitu al-Kitab, as-Sunnah, Ijma’, Qiyas, dsb. [2] Memahami bahasa Arab [3] Mengetahui maksud dari ungkapan umum dan khusus dalam bahasa Arab, muthlaq dan muqayyad. Bisa membedakan antara nash, zhahir, dan mu’awwal. Mujmal dan mubayyan. Manthuq dan mafhum, dsb [4] Dia harus mengerahkan segenap kemampuannya dalam mengambil kesimpulan hukum, tidak boleh setengah-setengah. Itu adalah sebagian syarat yang terkait dengan orangnya. Masih ada lagi syarat lain yang terkait dengan perkara yang menjadi objek ijtihad, di antaranya: bukan dalam perkara yang sudah ada dalil tegasnya, dalil yang ada dalam perkara tersebut memang masih membuka ruang -tidak dipaksakan- yang memungkinkan adanya perbedaan penafsiran, dsb (lebih lengkap baca di <em>Ma’alim Ushul Fiqh ‘inda Ahlis Sunnah wal Jama’ah</em>, hal. 479-484).</p>
<p><strong>Berbuat dosa kok mengharap pahala?</strong></p>
<p>Di manakah letak ilmu pada diri orang yang melakukan bom bunuh diri dan menyuruh orang lain untuk bunuh diri? Padahal Allah ta’ala berfirman,</p>
<p>وَلَا تَقْتُلُوا أَنْفُسَكُمْ إِنَّ اللَّهَ كَانَ بِكُمْ رَحِيمًا</p>
<p><em>“Janganlah kalian membunuh diri kalian sendiri, sesungguhnya Allah Maha menyayangi kalian.”</em> (Qs. an-Nisaa’: 29)</p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> juga bersabda,</p>
<p>وَمَنْ قَتَلَ نَفْسَهُ بِشَيْءٍ عُذِّبَ بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ</p>
<p><em>“Barang siapa yang membunuh dirinya sendiri dengan suatu alat/senjata maka dia akan disiksa dengannya kelak pada hari kiamat.”</em> (HR. Bukhari dan Muslim dari Tsabit bin ad-Dhahhak <em>radhiyallahu’anhu</em>, ini lafaz Muslim)</p>
<p>Ketika mengomentari ulah sebagian orang yang nekad melakukan <a title="Teroris bukan mujahid" href="http://muslim.or.id/manhaj/teroris-bukan-mujahid-dan-mujtahid.html" target="_blank">bom bunuh diri</a> dengan alasan untuk menghancurkan musuh, maka Syaikh Ibnu Utsaimin <em>rahimahullah</em> mengatakan, “Hanya saja kami katakan, orang-orang itu yang kami dengar melakukan tindakan tersebut, kami berharap mereka tidak disiksa seperti itu sebab mereka adalah orang-orang yang jahil/bodoh dan melakukan penafsiran yang keliru. Akan tetapi, tetap saja mereka tidak memperoleh pahala, dan mereka bukan orang-orang yang syahid dikarenakan mereka telah melakukan sesuatu yang tidak diijinkan oleh Allah, akan tetapi mereka telah melakukan apa yang dilarang oleh-Nya.” <em>(Syarh Riyadh as-Shalihin</em>, dinukil dari <em>al-Kaba’ir ma’a Syarh Ibnu Utsaimin</em>, hal. 109)</p>
<p>Di manakah letak ilmu pada diri orang yang membunuh nyawa orang kafir tanpa hak? Padahal Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p>مَنْ قَتَلَ مُعَاهَدًا لَمْ يَرِحْ رَائِحَةَ الْجَنَّةِ وَإِنَّ رِيحَهَا تُوجَدُ مِنْ مَسِيرَةِ أَرْبَعِينَ عَامًا</p>
<p><em>“Barang siapa yang membunuh seorang kafir yang terikat perjanjian -dengan kaum muslimin atau pemerintahnya- maka dia tidak akan mencium bau surga. Sesungguhnya baunya itu akan tercium dari jarak perjalanan empat puluh tahun.”</em> (HR. Bukhari dalam Kitab <em>al-Jizyah</em> dan Kitab <em>ad-Diyat</em> dari Abdullah bin Amr <em>radhiyallahu’anhuma</em>, lafaz ini ada di dalam Kitab <em>al-Jizyah</em>)</p>
<p>al-Munawi menjelaskan bahwa ancaman yang disebutkan di dalam hadits ini merupakan dalil bagi para ulama semacam adz-Dzahabi dan yang lainnya untuk menegaskan bahwa perbuatan itu -membunuh kafir mu’ahad- termasuk kategori dosa besar. Meskipun seorang muslim tidak mesti dihukum bunuh sebagai akibat dari kejahatan itu (<em>Faidh al-Qadir</em> [6/251] as-Syamilah).</p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p>أُمِرْتُ أَنْ أُقَاتِلَ النَّاسَ حتَّى يَشْهَدُوا أنْ لا إلَهَ إلاَّ الله، وأَنَّ مُحَمَّداً رسولُ اللهِ، ويُقيموا الصَّلاةَ ، ويُؤْتُوا الزَّكاةَ ، فإذا فَعَلوا ذلكَ ، عَصَمُوا مِنِّي دِمَاءهُم وأَموالَهُم، إلاَّ بِحَقِّ الإسلامِ ، وحِسَابُهُم على اللهِ تَعالَى</p>
<p><em>“Aku diperintahkan untuk memerangi manusia sampai mereka mau bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang hak melainkan Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan shalat, membayarkan zakat, apabila mereka telah melakukannya maka terjagalah darah dan harta mereka dariku kecuali dengan alasan haq menurut Islam, dan hisab mereka terserah pada Allah ta’ala.”</em> (HR. Bukhari dan Muslim dari Ibnu Umar <em>radhiyallahu’anhuma</em>)</p>
<p>Syaikh Shalih bin Abdul ‘Aziz Alusy Syaikh <em>hafizhahullah</em> menerangkan bahwa di dalam kata-kata “apabila mereka telah melakukannya maka terjagalah darah dan harta mereka dariku” terdapat dalil yang menunjukkan bahwa orang kafir itu hartanya boleh diambil dan darahnya boleh ditumpahkan. Dan orang yang dimaksud di dalam hadits ini adalah kafir harbi, yaitu orang kafir yang sedang terlibat peperangan dengan pasukan kaum muslimin. Oleh sebab itu misalnya jika anda mengambil harta seorang kafir harbi maka tidak ada hukuman bagi anda. Adapun orang kafir mu’ahad, kafir musta’man dan kafir dzimmi -ketiganya bukan kafir harbi,pen- maka mereka semua tidak boleh diperangi (lihat <em>Syarah Arba’in</em>, hal. 63)</p>
<p><strong>Berjihadlah!</strong></p>
<p>Ketahuilah saudaraku, sesungguhnya seorang mujahid sejati adalah orang yang menundukkan hawa nafsunya untuk melakukan ketaatan kepada Allah -termasuk di dalamnya memerangi orang kafir dengan cara yang benar-, bukan dengan melakukan perbuatan dosa dan pelanggaran. Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p>الْمُجَاهِدُ مَنْ جَاهَدَ نَفْسَهُ فِي طَاعَةِ اللَّهِ</p>
<p><em>“Orang yang berjihad adalah orang yang berjuang menundukkan dirinya dalam ketaatan kepada Allah.”</em> (HR. Ahmad dari Fadhalah bin Ubaid <em>radhiyallahu’anhu</em> dinilai sahih oleh al-Albani dalam <em>as-Shahihah</em> [549] as-Syamilah)</p>
<p>Tanyakanlah kepada dirimu: Bukankah Nabi melarang membunuh orang kafir tanpa hak? Bukankah kita wajib taat kepada beliau? Bukankah ketaatan kepada Nabi itu pada hakikatnya merupakan ketaatan kepada Allah? Lalu dengan alasan apa kita menghalalkan darah yang diharamkan oleh Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> untuk ditumpahkan? Apakah kita merasa berada di atas agama yang lebih baik dan lebih hebat daripada agama yang diajarkan oleh Rasulullah? Jawablah wahai orang-orang yang masih memiliki akal dan hati nurani!</p>
<p>Sejak kapan membunuh orang kafir tanpa hak disebut jihad? Sejak kapan meledakkan gedung-gedung umum yang menimbulkan jatuhnya korban tanpa pandang bulu disebut sebagai jihad? Tanyakanlah kepada mereka yang sok menjadi mujtahid dan membolehkan ‘jihad’ ala teroris semacam itu: ijtihad ulama manakah yang membolehkan seorang muslim membunuh dirinya dan meledakkan bangunan umum yang berakibat melayangnya nyawa-nyawa tak bersalah? Atau barangkali yang mereka sebut sebagai ulama mujtahid itu memang bukan ulama alias Ruwaibidhah? Waspadalah -wahai para pemuda- dari tipu daya, silat lidah, dan penampilan mereka!</p>
<p>Ingatlah, sesungguhnya jihad yang diridhai Allah adalah jihad di jalan-Nya yang lurus, bukan di jalan yang menyimpang. Allah ta’ala berfirman,</p>
<p>وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ</p>
<p><em>“Orang-orang yang sungguh-sungguh berjuang/berjihad di jalan Kami niscaya Kami akan tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang berbuat baik/ihsan.”</em> (Qs. al-’Ankabut: 69)</p>
<p>al-Baghawi menyebutkan riwayat dari Ibnu Abbas <em>radhiyallahu’anhuma</em>, beliau berkata tentang tafsiran ayat ini, “Yaitu orang-orang yang berjuang dengan sungguh-sungguh di dalam ketaatan kepada Kami niscaya Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan untuk meraih pahala dari Kami.” (<em>Ma’alim at-Tanzil</em> [6/256] as-Syamilah)</p>
<p>Maka marilah kita berjihad di atas ketaatan, bukan di atas kedurhakaan!</p>
<p><strong>Hati-hatilah dari al-Qa’adiyah masa kini!</strong></p>
<p>al-Qa’adiyah merupakan salah saktu sekte Khawarij yang memiliki ideologi Khawarij, hanya saja mereka tidak memilih sikap memberontak. Meskipun demikian, mereka menganggap pemberontakan sebagai perkara yang baik, tidak boleh diingkari, bahkan berpahala! Dengan kata lain -dalam bahasa sekarang- mereka menilai bahwa pemberontakan yang dilakukan oleh rekan-rekan mereka -dengan menimbulkan kekacauan dan mengancam penguasa; bom bunuh diri dan semisalnya- bukan perkara yang salah, alias hasil ijtihad yang harus dihargai dan layak untuk diberi pahala [?!] Sampai-sampai salah seorang tokoh mereka di negeri ini berkata, <em>“Menurut saya mereka adalah mujahid. Dan apa yang mereka lakukan itu merupakan hasil ijtihad mereka. Walaupun saya tidak sependapat dengan -hasil ijtihad- mereka.”</em> Inilah ucapan gembongnya Khawarij di negeri ini!</p>
<p>Ketika menjelaskan biografi ringkas Imran bin Hitthan -salah seorang perawi hadits yang terseret paham Khawarij- Ibnu Hajar berkata, “al-Qa’adiyah adalah salah satu sekte dari kelompok Khawarij. Mereka berpendapat sebagaimana pendapat Khawarij, namun mereka tidak ikut melakukan pemberontakan. Akan tetapi mereka menghias-hiasi/menilai baik perbuatan itu.” (<em>Hadyu as-Sari</em>, hal. 577). Sebelumnya, Ibnu Hajar juga menukil ucapan Abul Abbas al-Mubarrid, “Imran bin Hitthan adalah gembong kelompok al-Qa’adiyah dari aliran Shafariyah. Dia adalah khathib/orator dan penya’ir di kalangan mereka.” (<em>Hadyu as-Sari</em>, hal. 577). Imran bin Hitthan inilah yang meratapi kematian Abdurrahman bin Muljam -sang pembunuh Ali bin Abi Thalib <em>radhiyallahu’anhu</em>- dengan untaian bait-bait sya’irnya yang heroik. Dikisahkan bahwa pada akhir hidupnya dia kembali ke jalan yang benar dan meninggalkan paham Khawarij, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Abu Zakariya al-Mushili di dalam <em>Tarikh al-Mushil</em> (lihat <em>Hadyu as-Sari</em>, hal. 577,578, lihat juga <em>Tahdzib at-Tahdzib</em> [8/128] as-Syamilah)</p>
<p>Ibnu Hajar mengatakan,</p>
<p>والقَعَدية الذين يُزَيِّنون الخروجَ على الأئمة ولا يباشِرون ذلك</p>
<p><em>“al-Qa’adiyah adalah orang-orang yang menghias-hiasi perbuatan pemberontakan kepada para pemimpin -umat Islam- dan mereka tidak ikut terjun langsung dalam tindakan tersebut.”</em> (<em>Hadyu as-Sari</em>, hal. 614 cet Dar al-Hadits)</p>
<p>as-Syahrastani mengatakan,</p>
<p>كل من خرج على الإمام الحق الذي اتفقت الجماعة عليه يُسمى خارجياً سواء كان الخروج في أيام الصحابة على الأئمة الراشدين أو كان بعدهم على التابعين بإحسان والأئمة في كل زمان</p>
<p>“Setiap orang yang memberontak kepada pemimpin yang sah yang disepakati oleh rakyat sebagai pemimpin mereka maka dia disebut sebagai Khariji (kata tunggal dari Khawarij). Sama saja apakah dia melakukan pemberontakan itu di masa sahabat masih hidup kepada para pemimpin yang lurus atau setelah masa mereka yaitu kepada para tabi’in yang senantiasa mengikuti pendahulu mereka dengan baik serta para pemimpin umat di sepanjang masa.” (<em>al-Milal wa an-Nihal</em> [1/28] as-Syamilah)</p>
<p>Salah satu pemikiran Khawarij yang berkembang saat ini -terutama di kalangan sebagian pemuda Islam yang bersemangat tapi tanpa ilmu- adalah pendapat yang membolehkan -tidak harus- untuk memberontak kepada pemimpin muslim yang zalim (lihat mukadimah kitab <em>al-Khawarij wal Fikru al-Mutajjaddid</em> karya Syaikh Abdul Muhsin bin Nashir al-Ubaikan, hal. 6). Sebagaimana pula keterangan semacam ini pernah kami dengar dari perkataan Syaikh Abdul Malik Ramadhani dalam sebuah rekaman video ceramah beliau ketika memberikan pelajaran kitab <em>asy-Syari’ah</em> karya Imam al-Ajurri.</p>
<p>Inilah sekelumit nasihat dan pelajaran bagi kita semua. Semoga masih ada telinga yang mau mendengar dan hati yang masih mau menerima kebenaran. Sebagian sumber tulisan ini kami ketahui dari buku <em>Madarik an-Nazhar fi as-Siyasah</em> karya Syaikh Abdul Malik Ramadhani, serta buku <em>Mereka adalah Teroris</em> susunan Ust. Luqman Ba’abduh, semoga Allah menerima amal kita dan mereka, serta mengampuni dosa kita dan mereka.</p>
<p>Ya Allah, tunjukkanlah kepada kami yang benar itu benar, dan karuniakanlah kepada kami ketaatan untuk mengikutinya. Dan tunjukkanlah kepada kami yang salah itu salah, dan karuniakanlah kepada kami keteguhan sikap untuk menjauhinya. <em>Wa shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa sallam. Walhamdulillahi Rabbil ‘alamin.</em></p>
<p>Yogyakarta, 17 Sya’ban 1430 H</p>
<p>***</p>
<p>Penulis: Ustadz Ari Wahyudi<br />
Artikel<a title="Teroris bukan mujahid" href="http://muslim.or.id/manhaj/teroris-bukan-mujahid-dan-mujtahid.html" target="_blank"> www.muslim.or.id</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.opick.net/2009/08/12/teroris-bukan-mujahid-dan-bukan-pula-mujtahid.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jangan Terlalu Lama Mencelup Teh</title>
		<link>http://www.opick.net/2009/08/12/jangan-terlalu-lama-mencelup-teh.html</link>
		<comments>http://www.opick.net/2009/08/12/jangan-terlalu-lama-mencelup-teh.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 12 Aug 2009 01:31:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kesehatan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.opick.net/?p=69</guid>
		<description><![CDATA[Teh adalah minuman yang mengandung kafein, sebuah infusi yang dibuat dengan cara menyeduh daun, pucuk daun, atau tangkai daun yang dikeringkan dari tanaman Camellia sinensis dengan air panas. Teh diakui berkhasiat bagi kesehatan tubuh. Teh juga telah menjadi konsumsi bagi masyarakat sebagai minuman sehari - hari.
Salah satu kemasan teh yang banyak beredar dipasaran adalah dalam [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-medium wp-image-70" title="tea-3" src="http://www.opick.net/wp-content/uploads/2009/08/tea-3-300x200.jpg" alt="tea-3" width="240" height="160" />Teh adalah minuman yang mengandung kafein, sebuah infusi yang dibuat dengan cara menyeduh daun, pucuk daun, atau tangkai daun yang dikeringkan dari tanaman Camellia sinensis dengan air panas. Teh diakui berkhasiat bagi kesehatan tubuh. Teh juga telah menjadi konsumsi bagi masyarakat sebagai minuman sehari - hari.</p>
<p>Salah satu kemasan teh yang banyak beredar dipasaran adalah dalam bentuk celup dan bubuk. Namun ada yang perlu diperhatikan pada teh celup, yaitu pemakaiannya. Teh celup sebaiknya tidak dicelupkan terlalu lama. Ini berlaku untuk semua teh, berwarna maupun teh hijau.<span id="more-69"></span></p>
<p>Ini disebabkan adanya kandungan zat klorin dalam kantong kertas teh celup. Zat ini fungsinya untuk disinfektan kertas sehingga kertas akan terbebas dari bakteri pembusuk dan tahan lama. Kertas dengan klorin tampak lebih bersih. Karena disinfektan, klorin dalam jumlah besar tentu berbahaya.</p>
<p>Tak jauh beda dari racun serangga. Banyak penelitian mencurigai kaitan antara asupan klorin dalam tubuh manusia dengan kemandulan pada pria, bayi lahir cacat, mental terbelakang dan kanker. Sehingga dianjurkan jangan mencelupkan teh celup dalam waktu lama.</p>
<p>Jika mencelup kantong teh lebih dari 3 - 5 menit, klorin akan ikut larut dalam teh. Dan banyak khasiat teh yang tertinggal dalam minuman teh. Agar terhindar dari kemungkinan - kemungkinan penyakit, sebaiknya jangan mencelup kantong teh lebih dari 3 menit.</p>
<p>Namun ada banyak manfaat yang kita dapatkan dengan minum teh, karena itu ada banyak alasan kenapa orang minum teh.</p>
<p>Ada 8 manfaat yang terkandung dalam satu cangkir teh. Apa saja ?</p>
<p>1. <strong>Antioksidan </strong>dalam teh dapat melindungi tubuh dari efek polusi dan penuaan dini</p>
<p>2. <strong>Mengandung sedikit kafein</strong>. 1/8 cangkir kopi mengandung 135 mg kafein, sementara 1 cangkir teh hanya mengandung 30-40 mg kafein sehingga tidak membuat sakit kepala atau susah tidur</p>
<p>3. <strong>Mengurangi risiko serangan jantung dan stroke</strong>. Teh membuat peredaran darah lancar dan bersih. Hasil studi di Belanda memperlihatkan, orang yang minum 2-3 cangkir teh hitam perhari memiliki sedikit resiko serangan jantung daripada yang tidak pernah minum teh.</p>
<p>4. <strong>Perkuat tulang</strong>. Ternyata bukan hanya kalsium susu yang membuat tulang anda kuat, orang yang rutin minum teh memiliki massa tulang lebih padat.</p>
<p>5. <strong>Putihkan Gigi</strong>. Anggapan teh bisa membuat gigi nampak kusam rupanya tidak benar, sebab ternyata teh mengandung <em>fluoride</em> untuk mengusir karang gigi. Lebih bagus lagi jika seusai menggosok gigi, anda berkumur dengan teh tanpa gula.</p>
<p>6. <strong>Cegah Infeksi</strong>. Kandungan teh bisa memperkuat sistem kekebalan dan menangkal serangan infeksi.</p>
<p>7. <strong>Atasi kanker</strong>. Zat antioksidan bernama polyphenols yang ada dalam teh dapat memerangi kanker.</p>
<p>8. <strong>Bebas kalori</strong>. Tanpa tambahan pemanis, gula atau susu, teh tetap bebas kalori.</p>
<p>Dengan begitu, teh bagus dikonsumsi bagi orang yang berdiet atau yang ingin mempertahankan berat badan. Coba konsumsi teh hijau sekitar 4 cangkir per hari. Itu dapat membakar lebih dari 80 kalori yang tertimbun di tubuh. Dan penting untuk selalu di ingat agar jangan mencelup teh lebih dari 5 menit.</p>
<p><em>Artikel dari berbagai sumber.</em><em></em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.opick.net/2009/08/12/jangan-terlalu-lama-mencelup-teh.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
